#LembarAkhlak
ARS-TZH-1448.II.20
MENYIKSA DIRI BUKANLAH AJARAN ISLAM
Tidak sedikit orang merasa bahwa semakin berat ibadah yang dijalani, semakin sempurna pula agamanya. Karena itu, segala sesuatu yang mudah dianggap kurang utama, sedangkan yang sulit selalu dipandang lebih berpahala.
Benarkah kesempurnaan beragama diukur dari seberapa berat seseorang memperlakukan dirinya?
Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah (w. 1421 H) memberikan sebuah kaidah penting dalam memahami kesempurnaan beragama. Beliau berkata:
لَيْسَ كَمَالُ التَّدَيُّنِ بِإِتْعَابِ النُّفُوسِ فِي الْعِبَادَةِ وَالْبُعْدِ عَنْ مَلَاذِّ الدُّنْيَا الْمُبَاحَةِ، فَطَرِيقَةُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْمَلُ طَرِيقَةٍ؛ لِمَا تَشْتَمِلُ عَلَيْهِ مِنْ إِعْطَاءِ النَّفْسِ حَظَّهَا مِنَ الرَّاحَةِ وَاللَّذَائِذِ الْمُبَاحَةِ مَعَ التَّعَبُّدِ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
“Kesempurnaan dalam menjalankan agama bukanlah dengan menyulitkan diri sendiri dalam beribadah atau menjauhi berbagai kenikmatan dunia yang Allah halalkan. Justru jalan Rasulullah ﷺ adalah jalan yang paling sempurna, karena di dalamnya terdapat sikap memberikan hak kepada diri untuk beristirahat dan menikmati berbagai kenikmatan yang dihalalkan, namun tetap beribadah kepada Allah 'Azza wa Jalla.”¹
Melalui perkataan ini, Syaikh Ibnu 'Utsaimin menjelaskan bahwa kesempurnaan beragama tidak diukur dari seberapa berat seseorang memperlakukan dirinya dalam beribadah. Justru, kesempurnaan itu terletak pada sejauh mana ia mengikuti petunjuk Rasulullah ﷺ. Karena itu, tidak setiap kesulitan dalam ibadah merupakan tujuan yang dicintai oleh Allah. Apabila suatu amal menjadi lebih berat karena memang sesuai dengan tuntunan syariat, maka itulah yang berpahala. Adapun sengaja menyulitkan diri tanpa tuntunan, bukanlah ukuran kesalehan.
Barangkali selama ini kita mengira bahwa semakin berat ibadah yang dijalani, semakin besar pula pahalanya. Padahal, yang Allah kehendaki bukanlah beratnya ibadah, tetapi benarnya ibadah. Sebab, amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang paling sesuai dengan petunjuk Rasulullah ﷺ.
Allah Ta'ala berfirman:
﴿الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا﴾
“Dialah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang paling baik amalnya.” (QS. Al-Mulk [67]: 2)
Menafsirkan ayat ini, Al-Fudhail bin 'Iyadh rahimahullah (w. 187 H) berkata:
هُوَ أَخْلَصُهُ وَأَصْوَبُهُ
"Yaitu amal yang paling ikhlas dan paling benar."
Ketika ditanya tentang maksud perkataannya, beliau menjelaskan:
“Apabila suatu amal dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak benar, maka tidak diterima. Begitu pula apabila benar tetapi tidak ikhlas, maka tidak diterima. Amal baru diterima apabila dilakukan dengan ikhlas karena Allah dan benar sesuai dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” ²
📚 Catatan Referensi:
¹ Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin (w. 1421 H). Tanbīh al-Afhām bi Syarḥ 'Umdat al-Aḥkām. Hlm. 793.
² Al-Fudhail bin 'Iyadh (w. 187 H), dinukil oleh Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jāmi' al-'Ulūm wa al-Ḥikam, pada penjelasan hadits "Innamal a'mālu bin-niyyāt".
#berilmusebelumberamal #tazkiyah #ibadah #sunnah #ittiba #kajianislam #nasihatulama
•┈┈┈┈•✿❁✿•┈┈┈┈•
📟 Instagram al_ilmoe: https://instagram.com/al_ilmoe?igshid=ZDdkNTZiNTM=
📟 WA alilmoe:
https://whatsapp.com/channel/0029VaGNWYLDJ6H6tfpwSh0b